IMPOR
GANDUM MEREDUPKAN ASA KEMANDIRIAN PANGAN INDONESIA
Pada
dasarnya, gandum bukan merupakan bahan makanan pokok masyarakat Indonesia. Namun,
beberapa tahun terakhir gandum memiliki peranan penting di kalangan masyarakat terutama
masyarakat yang memiliki pendapatan menengah ke bawah. peralihan pola konsumsi masyarakat
ke bahan pangan yang berasal dari gandum seperti mie instan, serta kurang diminatinya sumberdaya pangan dalam
negeri seperti ketela semakin menjauhkan Indonesia dari kemandirian pangan
Masuknya gandum ke Indonesia
Masuknya gandum ke Indonesia sudah
berlangsung lama sebelum masa kemerdekaan yang dibawa oleh pedagang atau
saudagar dari Timur Tengah, Afrika dan Australia. Setelah masa kemerdekaan pun,
impor gandum masih dilakukan melalui mekanisme impor dalam rangka untuk
memenuhi kebutuhan domestik saja sehingga tidak masuk dalam program ketahanan
pangan. Baru pada tahun 1969 menjadi program ketahanan pangan nasional. Hal
tersebut ditandai dengan tercapainya kesepakatan antara pemerintah indonesia
dengan Amerika Serikat yang dikenal dengan nama PL 480.
Kebijakan PL 480 merupakan kebijakan
pemerintah Amerika Serikat untuk memberikan bantuan pangan kepada negara-negara
berkembang melalui berbagai pendekatan seperti humanitarian food needs.
Pemerintahan Amerika Serikat
memberikan bantuan pangan kepada negara-negara berkembang dilatarbelakangi oleh
produksi gandum dalam negeri mengalami surplus besar-besaran. Jadi untuk
menjaga stabilitas harga gandum domestik pemerintah membeli kelebihan produksi
tersebut yang kemudian disimpan dalam lumbung milik negara yang selanjutnya
digunakan untuk alat propaganda pada masa perang dingin
.
DAMPAK MASUKNYA GANDUM SECARA
BESAR-BESARAN KE INDONESIA
Menurut perkembangannya program PL
480 tidak berlangsung lama, namun dampaknya menjadikan masyarakat Indonesia
sangat tergantung dengan ketersediaan gandum. Tercatat pada tahun 1980 konsumsi
gandum hanya 8,1 kg per kapita. Namun, pada tahun 2010 konsumsi masyarakat
terhadap gandum 22,4 kg per kapita. Parahnya lagi, melonjaknya kebutuhan gandum
tidak diiringi dengan upaya untuk memproduksi dan mengurangi tingkat impor
gandum yang menjadikan Indonesia semakin jauh dari kemandirian pangan akibat
ketergantungan akan komoditas gandum.
Salah satu akibat dari semakin
melonjaknya permintaan gandum dalam negeri adalah menjadikan Indonesia semakin
sulit terlepas dari jerat impor gandum yang tentunya tidak menguntungkan dari
segi ekonomi karena pasti akan menguras devisa negara.
Dampak lain yang perlu jadi
perhatian pemerintah Indonesia adalah semakin sulitnya tanaman lokal bersaing
untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sebenarnya komoditas gandum bisa
digantikan oleh olahan tapioka, sagu dan singkong yang relatif mudah tumbuh di
Indonesia.
Secara menyeluruh, dampak nyata yang
dihadapi Indonesia sampai saat ini adalah semakin sulit tercapainya kemandirian
pangan nasional karena alternatif-altenatif yang ada kalah saing dengan
keberadaan gandum.
SOLUSI UNTUK KEDEPANNYA
Perlu diketahui bersama, bahwa
gandum tidak semestinya dijadikan satu-satunya prioritas sumber karbohidrat
setelah beras. Memang benar, apabila gandum sudah di manfaatkan jauh sebelum
Indonesia merdeka. Tetapi keberadaan gandum tidak berarti harus meminggirkan
potensi produk dalam negeri yang sebenarnya akan banyak menguntungkan bangsa
Indonesia bila di tangani dengan baik dan berkesinambungan.
Jumlah penduduk Indonesia jauh lebih
sedikit daripada jumlah penduduk China, tetapi dalam konsumsi gandum bangsa
Indonesia malah jauh melampaui konsumsi masyarakat China. Tentu hal ini bukan
menjadi pertanda yang baik bagi Indonesia.
Salah satu upaya yang perlu di coba
Indonesia adalah dengan membududayakan tanaman gandum di beberapa wilayah yang
di anggap cocok untuk tempat budidaya. Pada tahun 2000 dan 2014 sudah dilakukan
percobaan budidaya tanaman gandum dengan mendatangkan benih dari India dan
slovakia tatapi tetap saja tidak mampu menjadikan gandum sebagai komoditas
unggulan. Jadi, alangkah baiknya Bangsa Indonesia mengembangkan potensi tanaman
lokal yang sejatinya mudah tumbuh di
Indonesia untuk menjadi alternatif dari gandum seperti sagu dan ketela.
Pada tahun 1980 an sebenarnya sudah
dilakukan pengembangan ketela dan sagu. Namun, hal tersebut tidak
ditindaklanjuti secara serius sehingga sampai sekarang Indonesia masih
mengalami ketergantungan terhadap gandum. Pada dasarnya, tanaman lokal
pengganti gandum memliki potensi cukup nesar bila dilihat dari segi geografis.
Apabila pengembangan potensi tanaman lokal dilakukan secara benar, pastinya itu
akan mendatangkan keuntungan dari segi ekonomi karena Indonesia tidak harus
mengimpor gandum. Keuntungan lain yang didapat adalah semakin meningkatnya daya
saing tanaman lokal Indonesia di pasar Internasional.
Jadi,
sudah seharusnya masalah ketergantungan Indonesia terhadap gandum menjadi
perhatian yang serius dari Bangsa Indonesia mengingat sekarang kita hidup di
era globalisasi dan mulai memasuki era pasar ekonomi bebas.
REFERENSI
http://ketahananpangannasional.blogspot.com/2013/04/gandum-menhancurkan-ketahanan-pangan.html diakses pada tanggal 4 Juni 2017 pukul 20.37
WIB
Pradeksa,
yogi dkk, 2014, ”Faktor-faktor yang
mempengaruhi impor gandum Indonesia”, Jurnal Agro Ekonomi Vol. 24/No. 1 Juni
2014
Berita
DetikFinance, Selasa, 12 Juni 2012 (10.37), “Laporan dari Slovakia; Kurangi
Impor, RI produksi Gandum Secara Massal mulai 2014
(https;//m.detik.com/finance/industri/1938730/kurangi-impor-ri-produksi-secara-massal-mulai-2014)


Komentar
Posting Komentar